Jumat, 30 Maret 2012

Kis 10:34-43


UNIVERSALITAS KESELAMATAN ALLAH
Suatu Uraian Eksegetis-Teologis Atas Kisah Para Rasul 10:34-43

1.   Pengantar
        Kisah Rasul 10:34-43 ini merupakan satu kesatuan dengan bagia-bagian yang sebelumnya, KRas 10:1-33. Bagian ini secara umum menceriterakan bagaimana misi perjumpaan Petrus dengan Kornelius yang akhirnya bertobat dan dibabtis dengan segenap isi rumahnya. Petrus sebagai rasul yang telah menerima karunia roh Kudus mampu mewartakan Injil keselmatan bagi semua bangsa; Yahudi maupun Yunani, kelompok yang bersunat maupun yang tidak bersunat karena Roh Kudus. Peran Roh Kudus sangat sentral dalam pewartaan seorang nabi. Petrus berkhotbah atas inisiatif atau dorongan dari Roh Kudus. Ia diutus secara sah oleh Sang Guru, Yesus Kristus yang pernah disalibkan, namun hidup kembali.
        Khotbah Petrus pada KRas 10:34-43 telah diantisipasi dalam dua peristiwa; pertama, penglihatan yang dialaminya. Tampak baginya sebuah benda berbentuk kain lebar yang isinya terdiri dari berbagai jenis binatang. Petrus menolak menyembelihnya. Namun, suara yang mengatakan “Apa yang dintayakan halal oleh Allah tidak boleh engkau nyatakan haram” (Kis 10:15b), membuka mata hati imannya. Pernyataan Tuhan tersebut menegaskan sifat kebenaran iman yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri setiap orang dari segala bangsa. Hal ini merupakan antisipasi khotbah Petrus pada ayat 34-36. Kedua, keselamatan sebagai inisiatif dari Allah sendiri. Pewartaan Injil keselamatan yang diwartakan Petrus kepada Kornelius dan seisi rumahnya, telah didahului sebuah kisah penglihatan oleh Kornelius sendiri. Ia saleh, ia benar dihadapan Allah dan ia takut akan Allah. Maka, meskipun ia dari bangsa lain , keselamatan juga terjadi padanya, karena Allah berkenan.[1]
        KRas 10:34-43 ini merupakan pewartaan atau pemakluman Petrus tentang Yesus orang Nazareth yang diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus dan penuh kuasa. Yesus yang diwartakan itu adalah Yesus yang menyelamatkan. Ia banyak menyembuhkan dan melakukan banyak mukzizat. Tampaknya di sini hendak dipaparkan fakta iman terhadap Yesus yakni Yesus yang pernah berkarya di dunia, bersabda, berbuat baik karenanya Ia disalibkan, namun dibangkitkan oleh Allah, dan kebangkitan-Nya membawa hidup kekal bagi setiap yang percaya. Maka, inti pewartaan Petrus terdapat dalam ayat 38.

2.   Uraian Ekseget dan Teologis KRas 10:34-43
Ayat 34-35lalu mulailah Petrus berbicara katanya”. Secara harafiah digunakan kata; ‘Petrus berbicara’ (having opening his mount). Ungkapan ini menegaskan otoritas khotbah Petrus sendiri, yang memberi bobot kebenaran pada pewartaannya. Kata-kata pertama yang diungkapkan oleh Petrus adalah ungkapan yang sangat penting.
        “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang”. Petrus berbicara tentang universalitas keselamatan Allah. Allah tidak memandang orang dan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu. Kepada Kornelius, Petrus memaklumkan Allah sebagai Allah segala bangsa, baik Yahudi maupun Yunani, Ia tidak memiliki bangsa favorit. Sebagai orang Yahudi, Petrus lebih memperhatikan sisi pewartaan di tengah-tengah bangsa kafir tersebut. Dalam Perjanjian Lama, Allah diyakini sebagai Allah orang Israel. Bangsa Israel merupakan bangsa pilihan Allah. Allah adalah raja sekaligus Tuhan mereka. Tetapi, dalam perjanjian Baru, berkat darah Anak Domba semua bangsa disatukan sebagai milik Allah. Syaratnya adalah beriman. Petrus memaklumkan bahwa Allah adalah Allah semua bangsa.[2]
        Kendati demikian, aspek keterpilihan Israel tidak terhapuskan. Keterpilihan Israel sebuah antisipasi kedatangan Mesias, seperti telah dijanjikan sejak zaman Abraham (Kej 12:1-3). Bukan suku bangsa orang berkenan dihadapan Allah dan kemudian diselamatkan. Seseorang atau setiap bangsa dikatakan berkenan jika memenuhi syarat-syarat dalam ayat 35; “…, yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran”.
        Pertama, takut akan Allah berarti percaya sepenuhnya pada-Nya. Allah menjadi satu-satunya landasan dasar kehidupan. Orang yang takut akan Allah sedemikian rupa menyelaraskan kehendaknya pada kehendak dan tuntutan Allah dalam Roh Kudus. Yesus adalah contoh otentik orang yang takut akan Allah. Takut akan Allah membenarkan orang. Kornelius dan seisi rumahnya berkenan dihadapan Allah karena perbuatannya yang takut akan Allah.
        Kedua, mengamalkan kebenaran. Bahasa Yunani menerjemahkan kebenaran dengan euvangelion. Terjemahan ini mengaju pada pribadi Yesus yang diwartakan para rasul. Yesus adalah Injil, Sang Kebenaran. Maka, keselamatan diperoleh dalam iman akan Yesus Sang Kebenaran.

Ayat 36: “Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang”. Bagian ini mempertegas ayat 34 dan 35, tentang kedudukan Allah sebagai Allah semua bangsa. Di sini termuat suatu tindakan Allah yang mempersiapkan keselamatan dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah kepenuhan ‘damai sejahtera’, melalui dan dalam diri-Nya terdapat keselamatan yakni damai sejahtera bagi semua bangsa. Maka, Yesus adalah Tuhan atas segalanya dan juga dalam membagikan berkat-Nya.[3]

Ayat 37: “Kamu tahu segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah babtisan yang diberitakan oleh Yohanes”. Pokok uraian ayat ini adalah hidup Yesus Kristus di depan umum. Babtisan Yohanes yang diterima oleh Yesus  merupakan bagian yang sentral dalam pewartaan Injil Lukas. Boleh dikatakan babtisan ini menjadi setting sekaligus awal dimana Yesus tampil ke panggung dunia. Hal ini terdapat dalam Lukas 3:3 yang separalel dengan Kis 1:22. Secara terminologi, bagian ini merupakan sinonim Yesus dari Nazareth. Pada bagian ini Petrus mengulangi pewartaan Yohanes tentang Mesias, Raja yang akan datang. Hal ini mengatisipasi 11:16; “Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan; Yohanes membabtis dengan air, tetapi kamu akan dibabtis dengan roh Kudus”.

     Ayat 38: Yesus dari Nazaret: Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang di kuasai iblis, sebab Allah menyertai Dia”. Petrus menyampaikan isi pewartaan secara singkat dan tegas. “Yesus dari Nazaret” Dengan mengungkapkan ini Petrus menyampaikan aspek historisitas Yesus yang pernah hidup di Nazaret, berkarya, berbuat baik dan melakukakn mukzijat. Pernyataan ini menegaskan isi pewartaan yang sebenarnya sekaligus kualitas yang ada di dalamnya.[4]
        “Di urapi oleh Alla dengan Roh Kudus”, mengingatkan pada kata-kata nabi Yesaya; “Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah  mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara…, Untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita….”(Yesaya 16:1-2), yang pernah dibacakan oleh Yesus di Sinagoga. Ungkapan ini menegaskan seluruh pewartaan Yesus sebagai hamba Allah yang telah diurapi dengan Roh Kudus. Di urapi dengan Roh Kudus berarti dipilih atau dipisahkan secara khusus oleh Allah. Dengan demikian Ia dimasukkan dalam garis keturunan Daud, Tuhan ada padanya. Kegenapan ini terjadi pada pembabtisan yang diterima dari Yohanes dalam simbol burung merpati. Di sini sekaligus terjadi penegasan ke-Mesias-an Yesus.
        Yesus sebagai Mesias membebaskan manusia dari penderitaan terutama yang disebebkan oleh kuasa iblis. Dengan kuasa yang dimiliki-Nya Yesus membebaskan manusia dari genggaman iblis. Allah kuat kuasa telah mematahkan kuasa iblis.
            Pokok uraian Petrus menyangkut hidup Yesus di depan umum. Ia memulai dengan pembabtisan yang dilakukan oleh Yohanes sebagai pemenuhan nubuat para nabi, bahwa Ia akan diurapi dengan Roh Kudus. Yesus melaksanakan tugas profetis-Nya dengan membebaskan orang dari penyakit dan lain sebagainya. Peranan Roh Kudus kembali ditegaskan di sini. Roh Kudus memampukan seseorang untuk melakukan pewartaan. Yesus adalah Nabi Allah yang benar menyelaraskan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa di surga, Ia membangun relasi yang intim dengan Allah.
Ayat 39: “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib”. Pada bagian ini Petrus menegaskan kekasksian mereka bersama Yesus. Pewartaannya didasarkan pada kebenaran bahwa Yesus yang sekarang dikhotbahkan adalah Yesus yang benar-benar Allah, yang telah mati namun hidup kembali, ‘kami adalah saksinya’. Di sini jelas peran seorang utusan sebagai saksi. Pewartaan hanya bisa terjadi jika ada penyaksian. Dan, penyaksian selalu membawa pada kebenaran. Yesus yang diwartakan sekarang adalah Kebenaran.
        Berbeda dengan khotbahnya yang berapi-api dan penuh wibawa dihadapan Sanhendrin. Di sini ia tidak berbicara tentang orang-orang yang bersalah terhadap kematian Yesus di salib. Petrus di sini berbicara dalam bentuk orang ketiga; ‘mereka’ bukan ‘kamu’. Hal ini sangat logis, sebab Petrus berbicara bukan didepan orang-orang Yahudi, tetapi pada kelompok kafir dimana pewartaan itu disampaikan. Jadi, mereka sama sekali tidak bertanggung jawab atas kematian Yesus di salib.
        Kematian di salib adalah kematian yang paling hina dan paling keji. Seorang warga negara Romawi yang paling hina sekalipun tidak akan disalibkan. Keempat penginjil, seakan-akan sepakat meletakkan tangungan kematian Yesus pada orang-orang Yahudi dan para tua-tuannya. Seandainya mereka tidak ngotot, Herodes tidak akan menjatuhkan hukuman mati pada Yesus.
         Ayat 40-41:Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia setelah Ia bangkit dari antara orang mati” Yesus telah dibangkitkan, menampakkan diri dan para rasul adalah saksi-saksinya. Ini merupakan data-data valid historis keberadaan Yesus. Kebangkitan adalah pokok pewartaan iman jemaat purba. Iman didasarkan pada kenyataan bahwa Yesus yang disalibkan itu ternyata telah bangkit, dan para murid adalah saksinya. Mereka adalah saksi-saksi yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yang makan minum dengan-Nya (Luk 24:41).
 Ayat 42:Dan Ia telah menugaskan kami untuk memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati”. Pada pokok pikiran ini, Petrus memberitahukan bahwa kesaksian mereka tidak saja mengenai kebangkitan, itu sendiri, tetapi juga kesaksian tentang Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Jika di tempat lain Petrus mau membangkitkan keprcayaan orang tentang kebangkitan, di sini ia terlebih dahulu memicu efek psikologis para pendengarnya. Ia terlebih dahulu membangunkan perasaan bersalah sehingga menggerakkan mereka kemudian untuk mencari keselamatan. Oleh sebab itu, Petrus mewartakan Yesus yang akan datang sebagai Mesias yang menjadi Hakim atas semua orang. Hakim yang memberi keadilan berdasarkan perbuatan yang telah diperbuat. Di hadapan-Nya semua manusia akan memperoleh keadilan. Mesias sebagai Hakim atas orang hidup dan mati.[5]
             Dalam bagian ini Petrus berbicara tentang tindakan soteriologis dan eskatologis Allah penyelamat. Yakni penyelamatan Allah yang terjadi dalam diri Yesus Kristus sebagai kepenuhan wahyu. Yesus telah menebus dunia dalam darah-Nya di atas kayu salib. Tindakan penyelamatan tersebut terus berlangsung dalam sejarah umat manusia dan hingga pada kepenuhannya nanti pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Di mana semua manusia akan diadili seturut keadailan Allah.
        Konsep Yesus sebagai hakim dijelaskan oleh Lukas dengan menggunakan term horizon. Dalam bagian Injil Lukas terdapat term Yesus sebagai hakim, seperti Luk 9:26; 10:13-16, dll. Kehidupan dan kematian berhubungan dengan sifat keberadaan Tuhan secara penuh yang menjadi dasar hidup iman orang Kristen secara umum (Rm 14:9; 1Tes 5:9-10).
Ayat 43:Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya”. Tema tentang kepenuhan kesaksian seorang nabi merupakan tema sentral dalam Lukas  dan Kisah Rasul. Formulasi ini sangat mirip dengan Luk 22:12 dan Kis 2:23. Sebagian besar terjemahan menguraikan touto seperti yang dipakai dalam bagian sebelumnya. Terjemahan “semua nabi bersaksi untuk Dia” terjadi pengulangan sebanyak tiga kali mengenai Dia yang melampaui batas, dan mengambil touto secara netral, dan menunjuk pada anak kalimat yang mengikutinya “barangsiapa percaya kepada-Nya” – piesteues eis auton ditemukan dalam Lukas dan Kisah rasul. Dalam pewartaan Petrus tentang iman yang menyelamatkan ini, kita memperoleh kerangka pewartaan Paulus tentang iman sebagai syarat mutlak bagi keselamtan seseorang.[6]
s
3.   Penutup
        Pokok teologis wejangan Petrus diambil dari Pernajijian lama; Allah tidak memandang bulu (Ul 10:17). Seperti dilakukan Paulus dalam Roma 2:11 dan Galatia 2:6, di sini Lukas menerapkan pernyataan tersebut bahwa Allah menerima baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi yang tidak benar.
        Keselmatan Allah terjadi bagi semua orang dari golongan manapun, dengan syarat adalah iman. Iman membuta orang selamat. Iman akan Yesus Kristus Sang Mesias yang telah disalibkan dan dibangkitkan kembali oleh Allah. Kebangkitan itulah yang kini merupakan warta iman. Karena kebangkitan-Nya sebagai raja dan Hakim atas semua orang hidup dan mati keselamatan terjadi bagi semua orang.
       


[1] Raymond E. Brown (ed.), The New Jerome Biblical Commentary (Norwich: Flechter and jon Ltd., 1990), hlm. 682.
[2] Daniel Harington, The apostle Act, dalam Sacra Pagina (Minnesota: Collegeville, The Liturgical press, 1996), hlm. 191.
[3] Daniel Harington, The apostle…, hlm. 191.
[4] Raymond E. Brown (ed.), The New…, hlm. 683.
[5] Daniel Harington, The apostle…, hlm. 193-194.
[6] Daniel Harington, The apostle…, hlm. 194.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar